rezeki halal untuk keluarga
Perintahini juga ditegaskan dalam ayat yang lain, seperti yang terdapat pada Surat Al Baqarah : 168 yang artinya: "Wahai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan; karena sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagimu".
BACHOK 16 Jun (Malaysiaaktif) - Kekuatan akidah dan menyara keluarga dengan rezeki halal adalah penting untuk membina 'Baiti Janati'. Menurut Ustaz Baharin Yusoff dalam Forum Bual Bicara sempena Program Jerayawara dan Jelajah Hari Anti Dadah Kebangsaan Peringkat Negeri Kelantan, pengisian konsep 'Baiti Janati' atau 'Rumahku
Seorangsuami memang diharuskan banting tulang mencari nafkah. Rezeki yang didapatnya berguna untuk menghidupi keluarganya. Dalam mencari nafkah, tentu harus lewat jalan yang halal. Ini semata demi mendapatkan rezeki yang berkah dan bermanfaat. Namun demikian, upaya para
Selainmendapatkan rezeki yang halal dan berlimpah, semoga dengan mengamalkan Amalan Seribu Dinar ini kesadaran ilmu, amal dan sosial kita akan tumbuh. Sehingga kita bisa menjadi cermin dan motivasi bagi orang-orang di sekeliling kita untuk beribadah dan berinteraksi sesuai nilai-nilai agama, serta secara konsisten bertakwa dan bertawakal
KisahPenjual Koran Difabel Pantang Menyerah Mencari Rezeki Halal untuk Keluarga Hananggoro berjualan koran dari pukul 08.00 - 11.00 WIB, dilanjutkan pada sore hari mulai pukul 15.00 - 18.00 WIB di perempatan Jl. Purwanggan Meski hidup dengan segala keterbatasan, tak membuatnya menyerah untuk mencari rezeki halal. Hananggoro berjualan
Recherche Site De Rencontre Gratuit Non Payant. Dalam kita melaksanakan sesuatu pekerjaan, kita perlu melakukan dengan ikhlas, bersungguh-sungguh serta dilaksanakan dengan cara yang paling baik dan sempurna. Sama ada dalam bentuk perkhidmatan mahupun menghasilkan sesuatu produk atau barangan. Islam menekankan kualiti dalam setiap perkara. Rasulullah SAW bersabda إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَيَقْبَلُ إِلاَّطَيِّبَا “Sesungguhnya Allah itu baik suci bersih dan Allah tidak akan menerima kecuali yang baik suci bersih – berkualiti juga” Riwayat Muslim Sesuatu yang dilakukan akan diterima sebagai ibadah apabila ianya memenuhi syarat baik suci bersih dan berkualiti, termasuk dilakukan dengan ikhlas syarat diterima amal, bersungguh-sungguh dan sempurna. Al-Quran menegur kualiti barang atau kerja yang berkualiti rendah. Diriwayatkan oleh Imam Hakim Kisah sahabat yang sering membawa buah kurma daripada dusun ke masjid untuk disedekahkan kepada fakir miskin. Pada suatu hari salah seorang membawa buah kurma yang kualitinya rendah sedangkan dia mampu memberikan yang lebih baik. Lalu turun ayat surah al-Baqarah 267 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الأرْضِ وَلا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ ٢٦٧ “Wahai orang-orang yang beriman! belanjakanlah pada jalan Allah sebahagian dari hasil usaha kamu yang baik-baik, dan sebahagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu dan janganlah kamu sengaja memilih yang buruk daripadanya lalu kamu dermakan atau kamu jadikan pemberian zakat, padahal kamu sendiri tidak sekali-kali akan mengambil yang buruk itu kalau diberikan kepada kamu, kecuali dengan memejamkan mata padanya dan ketahuilah, sesungguhnya Allah Maha Kaya, lagi sentiasa terpuji”. Berdasarkan ayat al-Quran dan kisah di atas; 1. Allah mengarahkan orang beriman untuk menghasilkan atau menyumbang sesuatu di dunia sebagai bekalan di akhirat. 2. Dalam menghasilkan atau menyumbang sesuatu, seperti harta, barangan, perkhidmatan, pengurusan, pengajaran, dan lain-lain, maka perlu dipersembahkan yang terbaik. 3. Kita juga tidak ingin menerima sesuatu yang buruk atau tidak berkualiti. Menyumbanglah sesuatu yang paling baik daripada kita. Sebagai pekerja, sumbangkanlah perkhidmatan kita yang terbaik kepada organisasi dan klien agar ia menjadi fixed deposit untuk kita di akhirat nanti. Jangan hanya melakukannya sekadar melepaskan batuk di tangga. Marilah kita renungi hadis Rasulullah SAW مَنْ طَلَبَ الدُّنْيَا حَلَالَا اسْتِعْفَافًا عَنِ الْمَسْأَلَةِ ، وَسَعْيَا عَلَى أَهْلِهِ ، وَتَعَطُّفًا عَلَى جَارِهِ ، جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَوَجْهُهُ كَالْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ Maksudnya “Barangsiapa mencari rezeki halal untuk menjaga diri daripada meminta-minta, dan dengan tujuan memenuhi nafkah keluarga, serta supaya dapat membantu tetangganya, nescaya dia akan datang pada hari Kiamat dengan wajahnya yang berseri-seri seperti bulan di malam purnama.” Riwayat al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman 9890 dan al-Tabarani dalam Musnad al-Syamiyyin 3465 Berminat menulis berkaitan Islam? Hantarkan artikel anda di sini
Empat belas abad yang silam, Rasulullah Shallahu Alaihi Wasallam telah memprediksi suatu kondisi yang akan terjadi pada umatnya, seperti dalam sabdanya يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ، لاَ يُبَالِي الْمَرْءُ مَا أَخَذَ مِنْهُ، أَمِنَ الحَلاَلِ أَمْ مِنَ الحَرَام “Akan datang kepada manusia suatu masa, pada waktu seseorang tidak lagi menghiraukan sesuatu yang diraihnya, apakah dari sumber yang halal ataukah dari sumber yang haram.” HR. al-Bukhari dan an-Nasai dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dan disahihkan oleh Syekh al-Albani dalam Shahih At-Targhib Wat-Tarhib Hanya orang yang memiliki indra yang tidak normal yang mengingkari kebenaran prediksi Rasul di zaman sekarang ini. Zaman di mana kejahatan untuk memperoleh rezeki dilengkapi dengan berbagai “ilmu” dan perangkat teknologi canggih. Ada yang berusaha mencari rezeki dengan cara penipuan via pesan singkat SMS, ada yang profesi utamanya adalah penipuan via bisnis online, ada juga yang dengan “kepandaiannya” mampu membobol mesin anjungan tunai mandiri ATM, dan yang tidak asing lagi di negeri kita adalah modus pencurian kelas kakap yang dilakukan oleh oknum elit dengan hasil “wah” bernama korupsi. Hadits di atas menggambarkan potret manusia materialis; manusia yang hanya berorientasi kepada hasil dengan menghiraukan proses untuk memperoleh hasil sebanyak-banyaknya. Mereka adalah tipe manusia yang boleh jadi bersyahadat tetapi tidak meyakini bahwa segala amal perbuatan dan usahanya akan dihisab di hari akhirat kelak. Hari di mana semua rahasia di dunia akan terungkap secara transparan. Firman Allah Azza Wa Jalla يَوۡمَ تُبۡلَى ٱلسَّرَآئِرُ ٩ فَمَا لَهُۥ مِن قُوَّةٖ وَلَا نَاصِرٖ ١٠ Pada hari dinampakkan segala rahasia, maka sekali-kali tidak ada bagi manusia itu suatu kekuatanpun dan tidak pula seorang penolong QS. Ath-Thariq 9 –10 Memang harus diakui bahwa mencari rezeki dengan tujuan untuk memberikan nafkah pada istri dan anak-anak adalah merupakan kewajiban suami sekaligus ladang ibadah sosial untuk menuai pahala dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, namun untuk mencapai nilai ibadah itu, harus memenuhi tiga syarat, yaitu Pertama Diniatkan karena mematuhi perintah Allah sebagai suami, Kedua Memperhatikan metode cara memperoleh rezeki itu. Harus dipastikan dari cara yang halal, dan jika ragu akan halal-haramya, maka metode itu harus dihentikan terlebih dahulu dan bertanya kepada ahli yang mengetahui hukum halal-haram, Yang ketiga adalah memanfaatkan hasil usaha tersebut rezeki pada jalan-jalan yang Allah ridhai, seperti memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok keluarga, berpartisipasi membangun masjid, berinfak, menunaikan haji atau umrah, berinfak, bersedekah atau mengeluarkan zakatnya jika nishab dan haulnya telah memenuhi syarat. Jika ke tiga syarat itu terpenuhi, maka rezeki yang diusahakan insya Allah akan mendatangkan berkah pada pribadi dan anggota keluarga. Mungkin hasil usahanya tidak terlalu banyak, namun pengaruh rezeki yang halal tersebut akan mendatangkan kebahagiaan keluarga yang hakiki keluarga sakinah, anak-anak tumbuh menjadi generasi yang shalih, cerdas, terampil, kuat, berbakti pada orang tua dan menjadi generasi yang mampu memberikan kotribusi terhadap Islam, umat, bangsa dan negaranya. Perhatikan, apa rahasia dibalik kejeniusan Imam Bukhari Rahimahullah yang pernah menghafalkan hadits disertai keterangannya di hadapan teman-teman belajarnya untuk menjawab keraguan bahwa beliau tidak punya perhatian dan tidak serius terhadap pelajaran, karena Imam Bukhari ketika hadir dalam halaqah ilmu tidak membawa alat tulis-menulis. Ternyata salah satu rahasia kejeniusan itu adalah karena ayahnya tidak pernah memberikan nafkah kepada anaknya dari sumber-sumber yang syubhat meragukan status halal-haramnya sekalipun; bukan hanya dari sumber yang haram, tapi dari sumber rezeki yang masih meragukan, apakah haram atau halal, dengan kata lain masih ada kemungkinan halalnya. Sebaliknya, nafkah yang diperoleh dari rezeki yang haram akan memberikan dampak yang buruk bagi kehidupan dan pembinaan keluarga sehingga upaya menghadirkan syurga kebahagiaan yang hakiki dalam keluarga akan menjadi sesuatu yang mustahil dan hanya menjadi angan-angan belaka. Diantara pengaruh yang ditimbulkan oleh rezeki yang haram; haram dzatnya dan atau haram sumbernya adalah sebagai berikut Pertama Menjadi penghalang terkabulnya do’a. Nabi Shallahu Alaihi Wasallam mengisahkan dalam sabdanya, yang artinya Sesungguhnya Allah itu baik, dan tidaklah akan menerima kecuali yang baik pula. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan orang-orang beriman dengan perintah yang telah Ia tujukan kepada para rasul. Allah berfirman يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan Qs. Al Mukminun 51. Dan Allah juga berfirman يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari rizki-rizki baik yang telah Kami karuniakan kepadamu.” Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyebutkan seorang lelaki yang bersafar jauh, hingga penampilannya menjadi kusut dan lalu ia menengadahkan kedua tangannya ke langit sambil berkata Ya Rab, Ya Rab,’ sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dahulu ia diberi makan dari makanan yang haram, maka mana mungkin permohonannya dikabulkan.” Riwayat Muslim dan At-Tirmidzi dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, dimana syek Al-Albani berkata hadits ini Hasan Shahih At-Targhib Wat-Tarhib Menurut penjelasan para Ulama, sekalipun lelaki di atas mengumpulkan beberapa sebab mustajabnya do’a, yaitu safar, mengangkat tangan ke langit, menggunakan asma Allah Ya Rabb, Ya Rabb dan dalam keadaan yang sulit, namun karena bertemu dengan penghalang doa; rezeki yang haram, maka doanya tidak terkabul. Salah satu ni’mat agung seorang mukmin adalah pengabulan do’a, termasuk keutamaan orang tua terhadap anaknya adalah do’anya mustajab, namun apalah artinya sebab-sebab mustajab itu ada jika dinodai oleh “sang penghalang do’a”, rezki yang haram. Untuk meraih keluarga sakinah dan generasi yang menyejukkan mata, Allah menyiapkan do’anya simak QS. Al-Furqan 74, namun apalah artinya do’a itu jika kembali bertemu dengan “sang penghalang do’a”, rezki yang haram. Wal Iyadzu billah. Kedua Rezki yang haram akan menghilangkan berkah. Kata berkah dari sisi bahasa berarti az-ziyadah yang artinya bertambah dan an-namaa’ yang artinya tumbuh berkembang. Menurut Imam Al-Baghawy rahimahullah, yang dimaksud dengan barakah adalah tetapnya kebaikan ilahy dalam sesuatu. Maka di dalam Islam rezeki yang diinginkan adalah rezeki yang bertambah dan mengandung kebaikan di dalamnya. Jika rezki yang diperoleh mengantarkan kita ringan dan tekun beribadah, ringan berbuat amal-amal kebaikan, ucapan dan perilaku kita menyenangkan orang lain, maka itulah tanda-tanda rezeki yang berberkah. Berkah dari suatu rezki tidak ditentukan oleh jumlahnya yang banyak. Realitas menunjukkan bahwa ada keluarga yang bergelimang dengan harta, wajah cantik dan tampan tetapi kehidupan keluarga tersebut hancur berantakan, suami-istri pisah, karena masing-masing berselingkuh, anak-anaknya terlibat berbagai masalah sosial, ada yang terlibat geng motor, ada yang pelaku sodomi, ada yang penipu ulung. Ini hanya sekelumit contoh keluarga yang kehilangan berkah; kehilangan nilai-nilai kebaikan, kehilangan ketenangan dan pada akhirnya kehilangan kebahagiaan, karena rezeki mereka tidak berberkah akibat dirampas oleh sesuatu yang haram dari rezeki itu, bisa dzatnya, bisa sumbernya cara memperoleh rezeki atau bisa kedua-duanya. Semoga Allah melimpahkan keluarga kita rezeki yang halal dan berkah dan melindungi keluarga kita dari rezki yang haram dan tidak berberkah. Aamin Ya Rabbal Alamin.
rezeki halal untuk keluarga